Mereformasi ASEAN Melalui Penguatan Peran Aktor Subnational melalui Teori Multi-level Governance
Keywords:
ASEAN, Integrasi Nasional, Multi-level Governance, Aktor Subnasional, ParadiplomasiSynopsis
Buku ini membahas tantangan dan keterbatasan integrasi ASEAN yang masih didominasi oleh pendekatan institusionalisme lunak melalui prinsip ASEAN Way, seperti konsensus, nonintervensi, dan hukum tidak mengikat. Meskipun Piagam ASEAN telah memberikan status kepribadian hukum, efektivitas implementasi kebijakan regional—khususnya dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN—masih menghadapi kesenjangan yang signifikan, tercermin dari rendahnya perdagangan intra-ASEAN dan tingginya ketergantungan pada aktor ekstra-regional. Buku ini mengajukan argumen bahwa reformasi ASEAN tidak dapat semata-mata dilakukan melalui pendekatan top-down, melainkan memerlukan penguatan peran aktor subnasional melalui kerangka multi-level governance dan strategi paradiplomasi. Dengan membandingkan pengalaman Uni Eropa dan Tiongkok, buku ini menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam meningkatkan perdagangan, investasi, dan pariwisata intra-regional. Secara keseluruhan, buku ini menawarkan formulasi kebijakan yang lebih implementatif untuk memperkuat integrasi ekonomi ASEAN, mendorong pembangunan daerah, dan mewujudkan integrasi regional yang lebih inklusif serta berorientasi pada rakyat.
References
A Rubasundram, G. (2019). Corruption and Good Governance: An Analysis of ASEAN’s E-Governance Experience. Southeast Asian Economies, 36(1), 57–70. https://doi.org/10.1355/ae36-1f
Acharya, A. (1997). Ideas, identity, and institution‐building: From the ‘ASEAN way’ to the ‘Asia‐Pacific way’’?’ Pacific Review, 10(3), 319–346. https://doi.org/10.1080/09512749708719226
Affandi, R. A., Johanna, D., Yani, Y. M., Bainus, A., & Mursitama, T. N. (2024). Enhancing Integration and Networking in Regional Smart Urban Development for Sustainable Cities: The Role of Subnational Actors in the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) and the European Union (EU). 2024 International Conference on ICT for Smart Society (ICISS), 1–7. https://doi.org/10.1109/ICISS62896.2024.10751249
Afriansyah, A. (2023). Jose Duke Bagulaya ASEAN as an International Organization: International Law and Region-Building in Southeast Asia (2022). UNITAS, 96(1), 111–115. https://doi.org/10.31944/20239601.04
Aguirre, D., & Irene Pietropaoli. (2012). Human Rights Protection the ASEAN Way: Non-Intervention and the Newest Regional Human Rights System. International Human Rights Law Review, 2(1), 276–311. https://doi.org/https://doi.org/10.1163/22131035-00102003
Aguirre, D., & Pietropaoli, I. (2012). Human Rights Protection the ASEAN Way: Non-Intervention and the Newest Regional Human Rights System. International Human Rights Law Review, 1(2), 276–311. https://doi.org/10.1163/22131035-00102003
Aguirre, I. (1999). Making sense of paradiplomacy? An intertextual enquiry about a concept in search of a definition. Regional and Federal Studies, 9(1), 185–209. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/13597569908421078
Ahmad, A. R. (2016). The Asean Charter: An Analysis. UUM Journal of Legal Studies, 7, 83–94. https://doi.org/10.32890/uumjls.7.2016.4636
Published
Categories
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.





