Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Pesantren

Authors

Sakban Rosidi, Sekolah Pascasarjana IKIP Budi Utomo; Mudjia Rahardjo, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Rachman Sidharta Arisandi, Universitas Islam Majapahit; Rofiqah Rofiqah, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Suratno Suratno

Keywords:

moderasi, pesantren, wawasan kebangsaan, pancasila, umat, islam

Synopsis

Preferensi masyarakat terhadap pesantren cenderung sangat meningkat sebagaimana tercermin dalam data dan informasi tentang afiliasi kesantrian serta proporsi antara santri aktif, santri alumni dan santri pendidik. Peningkatan preferensi terhadap pesantren sejalan dengan preferensi masyarakat terhadap madrasah, sekolah berciri Islam, dan kepercayaan terhadap kesanggupan pesantren dan sekolah yang diselenggarakan pesantren tidak hanya sebagai tempat pendidikan agama, tetapi juga tempat pendidikan ilmu, teknologi dan seni secara umum.
Para santri aktif, santri alumni, dan santri pendidik baik dari tipe ma'had maupun tipe pesantren terbukti memiliki sikap keberagamaan moderat sangat tinggi, dalam arti memiliki predisposisi positif (covert behavior) dengan indikator penerimaan budaya, sikap toleran, dan cinta damai. Sikap keberagamaan moderat ini tidak hanya menyangkut pergaulan dengan umat beragama lain, tetapi juga menyangkut kemajemukan di dalam agama Islam sendiri.
Perilaku belum begitu mewujud di kalangan para santri aktif karena memang pergaulannya masih bersifat terbatas dan dengan komunitas yang homogen. Belum mewujudnya perilaku keberagamaan moderat ini terjadi karena indikator pengukurnya mengedepankan perilaku yang nyata (overt behavior) dalam bentuk hubungan sosial, kerjasama sosial, dan ketiadaan perselisihan sosial.
Tidak ada keraguan sama sekali bahwa sebagian besar pesantren memiliki tradisi menanamkan rasa cinta tanah air sebagai bagian dari muatan pendidikannya, hingga menghasilkan para santri yang memiliki komitmen kebangsaan tinggi, dengan indikator keyakinan terhadap, dan kesediaan menjaga dan mempertahankan Pancasila dan UUD 1945, dan kesadaran hukum serta wawasan kebangsaan Indonesia. Ada banyak ekspresi berkenaan dengan muatan pendidikan nasionalisme ini. Mulai dari menegaskan komitmen dalam visi dan misi, menuangkan dalam mars pesantren, menegaskan pesantren sebagai aset bangsa, menjadikan satuan sekolahnya sebagai sekolah unggulan di bawah kementerian pendidikan, menyajikan khusus materi ahlussunnah wal jamaah, hingga membacakan kitab khusus yang salah satu fasalnya berisi tentang cinta tanah air.
Analisis hubungan antar variabel utama, menghasilkan kesimpulan: (a) terdapat hubungan positif dan signifikan antara afiliasi kesantrian dan sikap keberagamaan moderat di kalangan santri aktif, santri alumni dan santri pendidik pesantren dan ma'had, (b) tidak terdapat hubungan antara afiliasi kesantrian dan sikap keberagamaan moderat dengan perilaku keberagamaan moderat di kalangan santri aktif, santri alumni dan santri pendidik pesantren dan ma'had, (c) terdapat hubungan antara afiliasi kesantrian dengan komitmen kebangsaan baik secara langsung, maupun tidak langsung melalui sikap keberagamaan moderat, perilaku keberagamaan moderat di kalangan santri aktif, santri alumni dan santri pendidik pesantren dan ma'had, dan (d) Tidak terdapat hubungan antara perilaku keberagamaan moderat dengan komitmen kebangsaan di kalangan santri aktif, santri alumni dan santri pendidik pesantren dan ma'had.

References

Gunawan, Wawan, dkk (ed). 2015. Fikih Kebinekaan, Pandan¬gan Islam Indonesia tentang Umat, Kewargaan, dan Kepemimpinan Non Muslim. Jakarta: Maarif Institut dan Mizan.

Hanafi, Muchlis (ed). 2017. Moderasi Islam. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Hefner, Robert W. 2014. “Negara Mengelola Keragaman: Ka¬jian Mengenai Kebebasan Beragama di Indonesia” dalam Robert W. Hefner dan Ihsan Ali-Fauzi (eds), Mengelola Keragaman dan Kebebasan Beragama di Indonesia: Sejarah, Teori dan Advokasi. Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religius and Cross-cultural Studies/ CRCS) Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada.

Kamali, Mohammad Hasyim, 2015. The Middle Path of Moderation in Islam, the Qur’anic Principle of Wasathiyah. Oxford: Oxford University Press.

Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan, 2016. “Meneguh¬kan Komitmen Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama”. Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Lit¬bang dan Diklat Kementerian Agama.

Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan, 2017. Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Latif, Yudi 2014. “Revitalisasi Pancasila di Tengah Dua Fundamentalisme” dalam Komaruddin Hidayat (ed.). Kontroversi Khilafah: Islam, Negara dan Pancasila. Bandung: Mizan.

Ropi, Ismatu. 2017. Religion and Regulation in Indonesia. London: Palgrave Macmilan.161

Shihab, M. Quraish. 2019. Wasathiyyah Wawasan Islam ten¬tang Moderasi Beragama. Jakarta: Lentera Hati.

Sila, Muhammad Adlin. 2017. “Kerukunan Umat Beragama di Indonesia: Mengelola Keragaman dari Dalam” dalam Ihsan Ali-Fauzi, Zainal Abidin Bagir dan Irsyad Rafsadi (eds). Kebebasan, Toleransi dan Terorisme: Riset dan Ke-bijakan Agama di Indonesia. Jakarta: PUSAD-Paramadina.

Suharto, Babun, et.al. 2019. Moderasi Beragama: Dari Indonesia untuk Dunia. Yogyakarta: LKiS.

Suparlan. 2002. “Menuju Masyarakat Indonesia yang Multi¬kultural” dalam Jurnal Antropologi Indonesia 69.

Published

September 23, 2022

How to cite